Ketika tradisi Ngabuburit perlahan mulai menghilang di era virtual
gietimes
gietimes

Puasa Dan Bahasa Universal Peradaban

U.Eldias I 2026-02-27 02:03:08

Filosofi hidup pragmatis yang Menekankan Manfaat Nyata

Poshbloc Media I 2026-02-23 19:25:14

gietimes

Ketika tradisi Ngabuburit perlahan mulai menghilang di era virtual


Avatar

Channel :

Poshbloc Media

Publish : 2026-02-18 18:54:11

Tautan Untuk pc


Tautan Untuk Mobile

Close

detail

Sumber gambar : ...

Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dibanding bulan-bulan lainnya. Sejak pagi hari, ritme kehidupan terasa lebih tenang, namun menjelang sore suasana justru menjadi semakin hidup. Salah satu tradisi yang paling dinanti adalah ngabuburit, yaitu kegiatan menunggu waktu berbuka puasa dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat.

Ngabuburit bukan sekadar cara untuk mengalihkan rasa lapar dan haus, tetapi juga menjadi momen berharga untuk mempererat kebersamaan. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki cara unik dalam mengisi waktu menjelang magrib. Ada yang memilih berjalan santai di taman kota, berburu takjil di pasar Ramadan, atau sekadar duduk bercengkerama bersama teman-teman di halaman masjid. Suasana sore yang dihiasi cahaya matahari keemasan seakan menambah kehangatan kebersamaan.

Bagi sebagian orang, ngabuburit juga diisi dengan kegiatan yang lebih produktif. Remaja masjid biasanya mengadakan tadarus Al-Qur’an, kajian singkat, atau latihan hadrah. Kegiatan ini tidak hanya membuat waktu terasa lebih cepat berlalu, tetapi juga menambah pahala dan memperdalam pemahaman agama. Ada pula yang memanfaatkan waktu dengan membaca buku, menulis, atau menyiapkan hidangan berbuka bersama keluarga di rumah.

Pasar takjil menjadi salah satu ikon ngabuburit yang paling dirindukan. Beragam jajanan tradisional seperti kolak, gorengan, es buah, dan aneka kue tersaji menggoda selera. Meskipun sedang berpuasa, melihat warna-warni makanan dan mencium aromanya justru menjadi pengalaman tersendiri. Interaksi antara penjual dan pembeli menciptakan suasana yang ramai namun tetap penuh keramahan.

Di era digital seperti sekarang, ngabuburit juga bisa dilakukan secara virtual. Banyak orang mengikuti kajian daring, menonton konten inspiratif, atau berbagi cerita Ramadan melalui media sosial. Meski teknologi memudahkan segalanya, esensi ngabuburit tetaplah tentang kebersamaan dan pengisian waktu dengan hal positif.

Yang terpenting, ngabuburit mengajarkan kesabaran. Menunggu azan magrib berkumandang melatih kita untuk menahan diri dan menghargai waktu. Ketika akhirnya waktu berbuka tiba, rasa syukur terasa begitu dalam. Segelas air putih dan sepotong kurma menjadi nikmat yang luar biasa setelah seharian berpuasa.

Ngabuburit di bulan suci bukan hanya tradisi, melainkan bagian dari kenangan indah yang selalu dirindukan setiap tahun. Ia menghadirkan tawa, kebersamaan, serta momen refleksi diri. Di balik kesederhanaannya, ngabuburit menyimpan makna yang mendalam tentang kebersamaan, kesabaran, dan rasa syukur.


Avatar

Posted By :

Poshbloc Media


Tulis ulang apabila kamu mengetahui lebih luas seputar artikel ini, dapatkan tambahan bonus 10 poin untukmu.

Ditulis oleh :

Member komunitas poshbloc.id

Pada :




Authors Writers

Ketika tradisi Ngabuburit perlahan mulai menghilang di era virtual

Poshbloc Media